Setelah Al Amien Nasution, kini giliran Bulyan Royan, Anggota DPR dari Fraksi Partai Bintang Reformasi dicokok oleh KPK
Kabarnya anggota Dewan yang (tidak) terhormat itu tertangkap tangan saat menerima uang sebesar US $60.000 plus 10 ribu Euro, kasusnya berkaitan dengan pengadaan kapal Patroli di Ditjen Perhubungan Laut (Detik.com, Senin 30 Juni 2008).
Lengkaplah sudah alasan bagi kita (terutama saya) untuk tidak lagi mempercayai lembaga yang disebut-sebut terhormat itu, sekaligus memperkuat niat saya untuk GOLPUT, terutama pada Pemilu Legislatif tahun depan.
Saya sama sekali bukan pendukung tokoh kontroversial yang mantan Presiden yang juga penganjur Golput itu, bagi saya beliau justru bagian dari masalah, dorongan saya untuk GOLPUT semata-mata adalah reaksi pribadi saya atas kekecewaan demi kekecewaan yang bertubi-tubi menghajar pertahanan batin dan pikiran positif saya terhadap tokoh-tokoh politik dan birokrasi saat ini.
Sementara kalau kita ikuti persidangan Artalyta, makin miris saja mendengar deretan nama-nama pejabat penegak hukum yang seharusnya bersih dan berwibawa menjadi demikian hina dan murahan.
Saya jadi ingat cerita kawan saya yang waktu itu berprofesi sebagai pengacara.
Tugasnya antara lain adalah tawar menawar sejumlah uang yang harus disetor entah ke kejaksaan atau kepolisian.
“Saya pernah bawa uang 5 milyar ke Gedung Bundar’, katanya dengan nada mencela tapi terselip kebanggaan di ucapannya.
Lantas dia bercerita, bagaimana terjadinya proses tawar menawar antara dirinya sebagai pengacara dengan aparat penegak hukum yang menanganinya, bahkan tidak jarang kalau kasus yang ditanganinya ‘basah’, terjadi rebutan antar instansi penyelidik dengan penyidik (mohon maaf kalau saya salah istilah).
Ironisnya, semuanya itu diceritakan pada saat saya bertemu kawan tersebut ketika kebetulan kami ada dalam satu rombongan dalam menunaikan ibadah haji.
Sebagai pengacara yang (waktu itu) masih muda, kawan saya ini cukup berduit, di garasi rumahnya nongkrong sebuah BMW, VW Caravelle dan belakangan Toyota Harrier.
Saya pernah ngomong ke dia “Duit lu banyak, tapi menurut gua abu-abu tuh, kehalalannya diragukan”, kawan saya Cuma tersenyum.
Pemilu tahun 2004 membawa kawan ini ke Senayan sebagai anggota di salah satu Komisi bergengsi.
Ketika suatu saat kami reunian, mobil yang dibawanya ganti menjadi Toyota Alphard.
“Wah makin moncer aja nih” Kata saya waktu itu.
“Enak aja, ini mobil gua beli sebelum masuk Senayan”
Hehehehe…Padahal ketika ngomong itu, saya sama sekali tidak menyinggung posisinya sebagai anggota DPR.
Jadi, apalagi pilihan saya selain GOLPUT ?

No comments:
Post a Comment