Tuesday, September 16, 2008
30 Ribu Rupiah
3,5 L Pertamax, atau
Semangkok kecil Sop buntut ? atau
2 bungkus rokok ? atau
Pulsa HP untuk beberapa hari ? atau
3 keping VCD bajakan ? Atau
sebatang lipstik yang mungkin Anda beli dengan setengah bersungut-sungut karena terlalu murah ?
Yah....30 ribu rupiah memang bukan jumlah yang besar buat sebagian dari kita, bahkan mungkin nilainya terhitung cuma recehan yang tidak membuat Anda merasa kehilangan apabila uang senilai itu kecuci karena lupa dikeluarkan dari kantong oleh pembantu di rumah saat mencuci baju Anda.
Tapi 30 ribu rupiah ternyata begitu beharga bagi sekitar 7000 an (paling tidak) rakyat miskin di daerah Pasuruan, sehingga demi mendapatkan uang sebesar itu 21 orang diantaranya harus menebusnya dengan nyawa !!!
Saya trenyuh, spechless dan gak habis pikir.
Saya trenyuh membaca betapa sebagian dari mereka bahkan rela menempuh perjalanan jauh.
Saya spechless ketika nonton berita yang menyiarkan gambar ribuan orang yang berdesakan mengantri dan berebutan.
Saya tidak habis pikir, mengapa ada orang kaya yang membagikan zakat dengan cara seperti itu, yang lebih kental kesan pameran kekayaan daripada kedermawanan.
Tapi saya semakin tidak mengerti ketika ada petinggi Ormas keagamaan yang masih memaklumi perilaku orang kaya yang tengah berzakat itu.
Apa mereka tidak punya nurani ?
Atau mungkin saya yang terlalu sensitif ?
Wednesday, August 27, 2008
Kau Cantik Hari Ini (Intermezo)
Wah…grogi juga setelah sekian lama nggak pernah naik panggung, apalagi di depan orang-orang yang baru saya kenal (jelek-jelek gini saya memang jelek :) he..he..he..., belasan tahun yang lalu waktu masih tinggal di Yogya, saya pernah juga ngeband, mainin lagu-lagu The Beatles dan saya sebagai Vovalis).
Namun setelah nyanyi beberapa lagu dengan cukup mulus, apalagi setelah main gitar mengiringi seorang warga yang pengin nyanyi tapi kebetulan gitaris band nya gak kenal lagu yang diminta, tiba-tiba iseng saya kumat.
Tanpa ada yang meminta, saya buka suara
“Boleh nyumbang satu lagu lagi nggak ?”
Sudah tentu semua hadirin mengiyakan.
Lantas saya ngomong lagi “Setiap kali saya nyanyi lagu ini, istri saya selalu bertanya, hayooo…..nyanyi buat siapa ?”
Saya lihat hadirin senyum-senyum.
“Padahal, lagu ini saya nyanyikan buat dia” kata saya selanjutnya, senyum hadirin tambah lebar.
“Baiklah, saya akan membawakan lagu KAU CANTIK HARI INI dari LOBOW” Pungkas saya sambil nyengir.
Saya bawakan lagu itu dengan sangat santai dan Alhamdulillah, mulus sampai selesai, kebetulan jenis suara saya cocok dengan lagu yang agak-agak 'ngountry' tersebut.
Selesai nyanyi dan mendapat tepukan hadirin serta pujian MC, saya kembali ke tempat duduk dan nyamperin istri saya yang sok cuek ngobrol dengan teman sebelahnya, he…he..he…saya liat baju belakangnya basah keringetan, mungkin malu juga dia dinyanyiin lagu oleh suaminya di depan umum, apalagi lirik lagunya agak-agak nggombal gitu.
Agak surprise ketika paginya dia membangunkan saya dengan cara yang tidak biasanya “Apih….Sudah siang nih, bangun dong…”, suaranya terdengar lebih lembut dari biasanya, nggak cuma itu, 2 kali ciuman mendarat di pipi saya yang kasar.
Wah…sepertinya saya harus berterimakasih pada Lobow dan Dewiq yang udah nyiptain lagu ini
KAU CANTIK HARI INI
Lama sudah tak ku lihat
Kau yang dulu ku mau
Kadang ingat kadang tidak
Bagaimana dirimu
Kau Cantik hari ini
Dan aku suka
Kau lain sekali
Dan aku suka
Entah ada angin apa
Kau berdiri di sana
Berhenti aliran darahku
Kau menatap mataku
Kau cantik hari ini
Dan aku suka
Kau lain sekali
Dan aku suka
Tak kan kubiarkan lagi
Kau menghilang dari kehidupanku
Friday, August 8, 2008
Berita yang menghukum
Sore tadi (Jumat 08/08/08) nonton berita sore Trans7 yang menayangkan spenggal kisah Rio Martil yang baru saja diekseskusi mati.
Yang membuat saya terganggu adalah saat kamera menyorot prosesi pemakaman sang terpidana, bergantian dengan penayangan wajah-wajah mungil anak-anak Rio, bertepatan dengan itu ada suara narator (soud bite) yang kurang lebihnya mengatakan bahwa "Rio adalah seorang pembunuh sadis berdarah dingin" yang diulang-ulang.
Kata-kata pembunuh sadis berdarah dingin yang diulang-ulang yang melatari penayangan wajah-wajah polos itu menurut saya seperti ikut menghukum 2 anak kecil yang tidak tahu menahu perbuatan bapaknya. Trans7 seperti 'mengumumkan' anak-anak yang masih polos itu sebagai anak dari seorang pembunuh sadis. Kasihan mereka.
Thursday, July 17, 2008
MUI dan Fatwa Rokok
Saya tersentak membaca berita tersebut, bukan karena saya perokok berat, tapi karena menurut saya, masih banyak yang harus diurusi oleh MUI ketimbang sekedar memikirkan untuk mengeluarkan fatwa rokok.
Misalnya, bagaimana menertibkan ormas-ormas Islam yang kelakuannya mirip preman seperti FPI dan FBR (yang ini meskipun bukan ormas Islam tapi ketua umumnya selalu menyebut dirinya Kyai Haji).
Seandainya MUI mengeluarkan fatwa haram terhadap rokok, maka fatwa tersebut berpotensi 'mandul', artinya tidak akan diikuti oleh sebagian umat Islam, artinya lagi hanya akan menurunkan wibawa MUI saja, karena fatwa tersebut tidak 'aplicable'. Ingat saja dengan Perda anti rokok DKI yang sekarang ini gaungnya hampir-hampir tidak terdengar lagi.
Kembali ke MUI, bagi saya, fatwa yang dikeluarkan oleh MUI sama sekali tidak mengikat, artinya bukan merupakan hukum yang wajib diikuti, tapi lebih sebagai patokan saja.
Contohnya begini, Ahmadiyah sesat bukan karena dinyatakan sesat oleh MUI, sebab dinyatakan sesat atau tidak oleh MUI, mereka memang sesat.
Saya contohkan lagi misalnya tentang Hoka-Hoka Bento, bahwa MUI pernah menyatakan bahwa kehalalannya diragukan, bukan lantas berarti itu (Hokben) haram, tapi seharusnya hanya dibaca 'Hoka-Hoka Bento belum dinyatakan halal oleh MUI'.
Kembali ke persoalan rokok.
Banyak alasan orang untuk merokok, misalnya untuk gagah-gagahan, menghilangkan stress, gaul dll.
Tapi banyak juga orang yang merokok karena memang pengin merokok, bukan untuk gaul, bukan untuk gagah-gagahan, bukan pula untuk ngilangin stress dll.
Merokok ya karena sekedar pengin aja, tanpa embel-embel apapun.
Mungkin suatu saat nanti, saat Indonesia sudah jaya dan kaya raya, saat FPI, FBR dan preman-preman berkedok agama lenyap dari bumi Indonesia, saat khutbah Jumat isinya tidak sekedar itu-itu saja, saat umat Islam tidak lagi berpolemik mengenai perlu tidak Ahmadiyah dan yang sejenis itu dilarang, saat Umat Islam Indonesia tidak lagi hanya sekedar Islam di Masjid tapi juga tetap Islam di luar Masjid, saat Umat Islam tidak lagi bertindak brutal membakar pencuri sepatu di Masjid, saat politisi Muslim di Senayan tidak lagi bikin malu, pendeknya saat para Ulama betul-betul bisa menjadi pengayom, pembimbing dan menjadi suri tauladan bagi umat dll...dll..., MUI boleh mengeluarkan fawa rokok haram, nonton Supersoulmate yang ada bancinya haram, nonton bola sampai dini hari haram dll.
Apalagi kalau kita baca sejarah, pelarangan 'khamr' pun dilakukan secara bertahap.
Itu pun dilakukan pasca Hijrah Nabi Muhammad saw ke Madinah, dimana sebelumnya bibit-bibit Umat Islam yang berkualitas sudah terlebih dahulu dibina selama sekian tahun awal kenabian Muhammad saw.
Artinya Nabi Muhammad mendahulukan membina akhlak dan menyempurnakan akidah, baru di susul yang lain-lain, seperti pelarangan khamr itu.
Kembali ke MUI, bagaimana kita (terutama saya) bisa mengikuti fatwa MUI, sedangkan dalam keseharian, mereka (MUI) tampak seolah tidak peduli dengan berbagai peristiwa yang mencoreng muka Umat Islam Indonesia seperti ditangkapnya Al Amin Nasution dan Bulyan Royan yang keduanya dari Partai Islam (PPP dan PBR), kelakuan FPI dan FBR yang lebih mirip Preman, banyaknya gerombolan orang yang membawa-bawa Bom untuk membunuh rakyat yang tidak bersalah yang mengatas namakan jihad, dan banyak sekali kejadian lain di mana MUI tidak hadir.
MUI baru terlihat sibuk berfatwa manakala ada orang yang mengaku Nabi, seperi Lia Aminuddin, Ahmadiyah dll., padahal tanpa difatwakan pun, mereka memang sudah cacat bin sesat.
Artinya MUI baru sibuk saat ada orang yang merongrong wibawa dan 'lahan' mereka secara langsung, sedangkan peristiwa yang merongrong dan meneror serta bikin malu umat Islam seperti kasus-kasus yang saya sebutkan (sedikit) contohnya di atas, mereka tidak peduli, seolah-olah itu bukan urusan mereka.
Tuesday, July 15, 2008
Apa guna (ber) Agama ?
Mari kita lihat jalanan di Jakarta atau kota besar lainnya di Indonesia, semuanya serba tidak tertib, serba berantakan, sementara sampai saat ini Indonesia masih mempertahankan predikat sebagai salah satu negara terkorup di dunia.
Padahal kita selalu mengklaim dan membanggakan bahwa Indonesia adalah negara dengan jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia, yang 90% penduduknya beragama Islam, agama yang dibawa oleh Rasulullah Muhammad SAW, manusia paling sempurna yang pernah diciptakan oleh Allah SWT.
Padahal salah satu ajaran pokok dari junjungan kita Nabi besar Muhammad saw adalah memperbaiki akhlak, namun justru keseharian sebagian besar dari kita jauh dari akhlakul karimah (Ahlak yang terpuji).
Saya sangat yakin, bahwa orang yang taat beragama, pastilah sikap dan perilakunya baik dan pantas dijadikan teladan.
Klaim kita bahwa 90% penduduk Indonesia beragama Islam mengundang konsekwensi bahwa 90% pelaku ketidak tertiban, 90% koruptor, 90% pelaku hal-hal yang membuat negara kita semakin terpuruk tentulah beragama Islam.
Artinya, perilaku sebagian besar dari pemeluk agama (Islam) di negara kita ini masih jauh dari perilaku yang diajarkan oleh Rasulullah.
Masih pantaskah kita mengaku beragama (Islam) ?
Atau apa gunanya agama (Islam) yang kita peluk kalau ajaran yang sangat mulia tersebut seperti tidak menyentuh perilaku keseharian kita ?
Apakah kita beragama hanya agar kolom agama di KTP kita tidak kosong ?
Atau karena kebetulan kita dilahirkan oleh orang tua yang beragama (Islam) ?
Kalau ajaran Agama yang kita peluk sama sekali tidak tercermin dalam perilaku keseharian kita, lalu apa gunanya (ber) Agama ?
Thursday, July 3, 2008
Apalagi selain GOLPUT ?
Setelah Al Amien Nasution, kini giliran Bulyan Royan, Anggota DPR dari Fraksi Partai Bintang Reformasi dicokok oleh KPK
Kabarnya anggota Dewan yang (tidak) terhormat itu tertangkap tangan saat menerima uang sebesar US $60.000 plus 10 ribu Euro, kasusnya berkaitan dengan pengadaan kapal Patroli di Ditjen Perhubungan Laut (Detik.com, Senin 30 Juni 2008).
Lengkaplah sudah alasan bagi kita (terutama saya) untuk tidak lagi mempercayai lembaga yang disebut-sebut terhormat itu, sekaligus memperkuat niat saya untuk GOLPUT, terutama pada Pemilu Legislatif tahun depan.
Saya sama sekali bukan pendukung tokoh kontroversial yang mantan Presiden yang juga penganjur Golput itu, bagi saya beliau justru bagian dari masalah, dorongan saya untuk GOLPUT semata-mata adalah reaksi pribadi saya atas kekecewaan demi kekecewaan yang bertubi-tubi menghajar pertahanan batin dan pikiran positif saya terhadap tokoh-tokoh politik dan birokrasi saat ini.
Sementara kalau kita ikuti persidangan Artalyta, makin miris saja mendengar deretan nama-nama pejabat penegak hukum yang seharusnya bersih dan berwibawa menjadi demikian hina dan murahan.
Saya jadi ingat cerita kawan saya yang waktu itu berprofesi sebagai pengacara.
Tugasnya antara lain adalah tawar menawar sejumlah uang yang harus disetor entah ke kejaksaan atau kepolisian.
“Saya pernah bawa uang 5 milyar ke Gedung Bundar’, katanya dengan nada mencela tapi terselip kebanggaan di ucapannya.
Lantas dia bercerita, bagaimana terjadinya proses tawar menawar antara dirinya sebagai pengacara dengan aparat penegak hukum yang menanganinya, bahkan tidak jarang kalau kasus yang ditanganinya ‘basah’, terjadi rebutan antar instansi penyelidik dengan penyidik (mohon maaf kalau saya salah istilah).
Ironisnya, semuanya itu diceritakan pada saat saya bertemu kawan tersebut ketika kebetulan kami ada dalam satu rombongan dalam menunaikan ibadah haji.
Sebagai pengacara yang (waktu itu) masih muda, kawan saya ini cukup berduit, di garasi rumahnya nongkrong sebuah BMW, VW Caravelle dan belakangan Toyota Harrier.
Saya pernah ngomong ke dia “Duit lu banyak, tapi menurut gua abu-abu tuh, kehalalannya diragukan”, kawan saya Cuma tersenyum.
Pemilu tahun 2004 membawa kawan ini ke Senayan sebagai anggota di salah satu Komisi bergengsi.
Ketika suatu saat kami reunian, mobil yang dibawanya ganti menjadi Toyota Alphard.
“Wah makin moncer aja nih” Kata saya waktu itu.
“Enak aja, ini mobil gua beli sebelum masuk Senayan”
Hehehehe…Padahal ketika ngomong itu, saya sama sekali tidak menyinggung posisinya sebagai anggota DPR.
Jadi, apalagi pilihan saya selain GOLPUT ?
Tuesday, July 1, 2008
Ahmadiyah
Namun melalui blog ini, saya ingin sedikit mengungkapkan pendapat saya.
Saya sepakat dengan Pak Dien Samsudin yang menyatakan bahwa pembubaran Ahmadiyah bukan merupakan solusi.
Pelarangan Ahmadiyah di Indonesia sama sekali tidak akan membuat pengikutnya insyaf, saya jadi ingat dengan pernyataan seorang tokoh kontroversial (Kalau gak salah Tan Malaka) yang mengatakan 'jasadku boleh terkubur, tapi pikiranku akan tetap abadi".
Artinya pelarangan Ahmadiyah hanya akan meniadakan mereka secara fisik, sedangkan secara ideologi atau kepercayaan, mereka akan tetap akan ada, meskipun secara fisik mereka (mungkin) berganti nama.
Apalagi, di luar sosok MGA yang kontroversial itu, seluruh ajaran ahmadiyah sama saja dengan Islam 'mainstream' lainnya.
Mereka percaya kepada Allah, Nabi Muhammad sebagai Rasul terakhir (silakan tengok situs ahmadiyah.org, dimana di situ terbaca mereka begitu mengagungkan Nabi Muhammad), maka adalah sulit sekali untuk meniadakan mereka begitu saja.
Kita ingat, Islam di Indonesia ini ada banyak sekali aliran-aliran yang menyimpang dari Islam 'mainstream' , misalnya Islam Wetu telu yang sampai sekarang masih eksis di Lombok, Islam kejawen, Islam yang masih dipengaruhi 'agama' Sunda Wiwitan', lantas yang tidak boleh dilupakan adalah golongan Syi'ah yang beberapa tokohnya bahkan mendapat tempat yang cukup terhormat di Indonesia, seperti Jalaludin Rahmat dkk.
Kalau kita 'membiarkan' Syi'ah eksis di Indonesia, lalu mengapa tidak dengan Ahmadiyah.
So, saya kira tidak ada yang perlu dikhawatirkan dengan Ahmadiyah, tinggal apakah para ulama (dan kita semua tentunya) dapat 'menang' dalam perebutan pengaruh dengan mereka.
Pelarangan, apalagi kalau dibarengi dengan tindakan kekerasan hanya akan, pertama membuat mereka semakin mendapat simpati, juga hanya makin mengeraskan hati mereka terhadap keyakinan yang mereka bawa.
Harap dicatat bahwa sekalipun saya berpendapat seperti ini, saya tetap menganggap Ahmadiyah menyimpang karena mempercayai MGA sebagai Nabi setelah Nabi Muhammad saw.
