Thursday, May 29, 2008

Batu Tulis, Dana Revolusi dan Blue Energy

Megawati mengutus Menteri Agama untuk menggali 'tambang' berupa harta karun di sekitar Prasasti Batu Tulis, Bogor yang konon nilainya bisa langsung menutupi utang luar negeri Indonesia. Penggalian pun dilakukan, dan.....seluruh rakyat terbelalak setelah melihat kenyataan bahwa sejak saat itu, sang Menteri yang bergelar DR Ilmu Al Qur'an tersebut menambah satu lagi khasanah perbendaharaan kepejabatan, yaitu malu-maluin....

Mundur ke belakang, pada saat Pemerintahan BJ Habibie, ada seorang 'ahli' yang mengaku punya rumus jitu untuk menutup kemerosotan ekonomi bangsa yang saat itu begitu terpuruk dengan terjungkalnya nilai rupiah terhadap mata uang asing setelah di 'lepas' mengikuti harga pasar. Dalam sebuah wawancara di Radio Elshinta, sang 'ahli' mengatakan bahwa dia hanya mau membuka rumus jitu nya dengan syarat Pak Presiden berkenan mengundangnya, dan akan langsung dipresentasikan di hadapan beliau. Untung Pak Habibie masih waras, sehingga kasus itu hilang begitu saja.

Beberapa waktu yang lalu, muncul seorang perempuan yang mengaku menguasai harta warisan dari peninggalan kerajaan-kerajaan di seluruh Nusantara yang jumlahnya 'tak terbayangkan', dan berbondong-bondonglah orang mendaftarkan diri sebagai 'team' yang nantinya akan kecipratan sedikit rejeki dari limpahan kekayaan warisan nenek moyang.

Sempat juga menjadi perdebatan publik yang sangat hangat tidak hanya di harian 'ecek-ecek', namun juga diulas di beberapa harian bahkan mingguan berita bergengsi, tentang apa yang di sebut-sebut dengan 'Dana Revolusi' warisan Bung Karno yang (lagi-lagi) jumlahnya di klaim bisa menutupi sebagian utang luar negeri kita yang jumlahnya sudah 'mengerikan' itu.

Melalui salah seorang kepercayaannya, yaitu Heru Lelono (CMIIW), Presiden SBY mengapresiasi , temuan 'dahsyat' seseorang bernama Joko Suprapto yang akhirnya diberi nama 'Blue Energy' berbahan dasar air laut yang diklaim mampu menggantikan BBM yang harganya semakin menggila belakangan ini. Setelah dikabarkan raib, sang penemu dengan alasan yang tidak dipublikasikan meminta maaf kepada Presiden SBY, tidak dipublikasikannya alasan mengapa mas Joko van Nganjuk itu minta maaf kepada Presiden, sama misteriusnya dengan 'katalis' yang mampu merubah air laut menjadi BBM (Bensin, Avtur, minyak tanah...you name it).

Ada benang merah yang terlalu kentara dari beberapa contoh kasus di atas, yaitu keinginan untuk secara cepat bin kilat untuk segera dapat terlepas dari jeratan kesulitan (terutama) ekonomi, sehingga hembusan sepoi-sepoi berbau gosip (baca : HOAX) diterima sebagai 'solusi yang sebentar lagi akan muncul, karena bau-baunya sudah ada', bau yang 'sudah ada' itu dalam hal warisan harta peninggalan kerajaan Nusantara dan Dana Revolusi berupa sertifikat yang di klaim asli, dalam hal Blue Energy berujud 'bahan bakar' yang diklaim sebagai hasil kerja keras mas Joko yang dikucurkan ke 4 buah mobil yang melakukan perjalanan Jakarta - Bali dalam rangka menyambut konperensi lingkungan PBB.

Mereka-mereka yang gampang terpengaruh dengan keberadaan Dana Revolusi dkk, biasanya adalah masyarakat pinggiran yang sudah setengah putus asa dengan kemiskinannya, atau orang-orang kaya yang kemaruk untuk melipat gandakan pundi-pundi kekayaannya, keduanya dihubungkan dengan satu kesamaan sikap, yaitu 'pengin gampangnya saja'.

Nah, saya tidak tahu alasan apa yang membuat RI 1 yang bergelar DR itu terkesan percaya begitu saja dengan 'penemuan dahsyat' Mas Joko, apakah beliau juga 'ingin gampangnya saja' ?

Yang jelas, menurut saya kasus ini berpotensi bikin malu Presiden dan rakyat Indonesia. Pasalnya pada saat mas Joko van Nganjuk ini raib, banyak spekulasi berseliweran, dari diculik untuk dimanfaatkan oleh negara asing, dibunuh oleh orang-orang tertentu, di tekan oleh 'orang penting di Pemerintahan' dan beberapa spekulasi lain yang kalau saya ingat sekarang kok membuat saya jadi ingin mengibarkan bendera kuning, apalagi Blue Energy yang katanya akan diproduksi 5.000 barrel per hari mulai bulan April 2008, sampai sekarang (dan sepertinya tidak akan pernah) kelihatan ujudnya. Betul-betul menyedihkan :(

Kabar terakhir menyebutkan bahwa kembaran ‘Blue Energy’ yaitu ‘Banyugeni’ yang kembangkan oleh Tim Universitas Muhammadiyah Yogyakarta bersama Joko Suprapto (lagi !) dihentikan pengembangannya setelah gagal dibuktikan kaidah ilmiah dari proyek tersebut. Penghentian proyek ‘prestisius’ itu dilanjutkan dengan pembongkaran Pembangkit Energy Jodhipati yang (lagi-lagi) diciptakan oleh Joko Suprapto yang sudah berminggu-minggu di install di halaman UMY namun sampai dibongkar sama sekali tidak berhasil menunjukkan kehebatan kinerjanya yang di klaim mampu menghasilkan daya listrik sebesar 3 MW dan dengan biaya hanya separuh dari biaya listrik PLN.

Saya pikir langkah UMY yang akan diikuti dengan langkah hukum terhadap Joko Suprapto cs sangat bagus dan tepat, meskipun agak terlambat. Karena bagaimanapun pernah diinstalnya Pembangkit Listrik Jodhipati dan juga Banyugeni yang kabarnya sudah pula dipatenkan itu telah mencederai nilai sebuah Universitas yang seharusnya mengedepankan kajian ilmiah.

Menarik untuk kita nantikan, apa tindakan Presiden SBY terhadap Joko van Nganjuk, dan juga terhadap Heru Lelono atau siapapun yang pernah membawa-bawa mas Joko ini bisa sampai di lingkaran dalam Kepresidenan.

No comments: