Tuesday, January 9, 2007

Kurban

Ada ganjalan yang terus menerus menggelitik setiap kali Hari Raya Kurban tiba.
Seperti biasanya, saya menjadi panitya - lebih tepatnya kolektor - kurban utuk mereka yang berniat melaksanakannya di kantor.
Tahun demi tahun berlalu, tetapi yang saya rasakan semakin 'kemari' adalah fenomena jawaban yang hampir seragam apabila saya menanyakan ke kawan-kawan 'kurban nggak tahun ini ?'.
Jawaban 'seragam' nya adalah 'nanti dulu, lihat-lihat situasi keuangan menjelang hari H nanti'.
Hm....Kurban memang bukan sebuah kewajiban seperti Sholat yang wajib dan harus dilaksanakan 5x kali dalam sehari, dan itulah yang membuat (sebagian) dari kita seperti mengesampingkan ibadah yang masuk kategori 'wajib bagi yang mampu' ini.
Nah...kategori 'wajib bagi yang mampu' inilah yang seolah-olah berada di 'grey area'.
Banyak rekan-rekan saya yang punya motor, dan bahkan mobil lebih dari satu, setiap 'week end' jalan-jalan bersama keluarga ke seantero mal yang berada di kawasan Jadebotabek yang paling tidak menghabiskan dana tak kurang dari satu juta rupiah sebulan (saya ambil rata-ratanya saja), tapi merasa 'keuangannya belum mencukupi sehingga belum wajib untuk berkurban'.
Ya....Ibadah Kurban telah diposisikan berada di prioritas nomor sekian.
Padahal kalau kita tinjau dari arti secara kebahasaan arti Kurban kurang lebih adalah 'mengihlaskan hal-hal yang sangat disukai untuk diberikan kepada pihak lain'.
Mengambil contoh dari Bapak Agama Samawi Ibrahim as, maka beliau rela memberikan (mengorbankan) anak satu-satunya yang amat sangat dicintainya sebagai kurban. Nabi Ismail juga memberikan contoh yang tidak kalah dahsyatnya, beliau rela 'memberikan hidupnya'.

Barangkali kedua contoh diatas terlalu 'tinggi' dan hanya bisa dilakukan oleh mereka yang ada di 'kelas Nabi', bukan untuk 'kelas awam' seperti kita.
Tapi musti kita ingat, Tuhan juga tidak menuntut kita untuk berkurban dengan nilai yang sedemikian besarnya, Tuhan tidak meminta hidup kita atau anak kita, cukup dengan 1 ekor hewan ternak seukuran kambing seharga minimal Rp 700.000 an per kepala, per tahun, tidak lebih mahal atau bahkan jauh lebih murah dari ongkos bensin mobil kita sebulan ! Juga lebih murah dari harga HP atau Console Game seperti Play Station atau XBox.
Sangat menyedihkan melihat banyak sekali diantara kita yang berasalasan 'belum lega', atau 'sudah banyak yang kurban' atau 'keuangan lagi pas-pasan' yang diangkat sebagai pembenaran bagi mereka untuk tidak berkurban.
Sekali lagi, berkurban adalah 'merelakan milik kita yang kita sukai untuk diberikan kepada pihak lain' atau semacam itu lah, dan bukan 'menyediakan harta sisa setelah kebutuhan-kebutuhan lain (baca kesenangan) terpenuhi'.
Bagi saya, kalau Anda sudah bermobil, apalagi lebih dari satu, sering jalan-jalan ke Mal, bisa menyisihkan dana rekreasi, bisa membelikan anak kita Play Station atau Handphone, atau sepeda motor, maka hukum Kurban adalah WAJIB.
Kita bisa mengajari anak untuk berkurban dengan sedikit mengurangi jatah beli pulsa atau mainan atau play stationnya untuk ditabung' supaya bisa ikut berkurban nantinya, atau memberikan pengertian kepada keluarga untuk sedikit mengurangi biaya rekreasi dan uangnya bisa disisihkan untuk kurban atau dengan cara-cara lain yang pada intinya adalah memberikan pemahaman bahwa yang namanya 'Kurban' secara sederhana adalah 'mengurangi kesenangan atas sesuatu untuk diberikan secara ihlas kepada pihak lain' dan (sekali lagi) bukan 'menyediakan harta sisa setelah kebutuhan-kebutuhan lain (baca kesenangan) terpenuhi', kalau harta kita sudah habis untuk memenuhi kebutuhan (lebih tepat keinginan) yang lain, ya gak ada lagi jatah untuk kurban'.
Seandainya kita termasuk kategori yang kedua, rasa-rasanya kita harus malu kepada Tuhan, atau minimal kepada diri kita sendiri.

No comments: